Kamis, 09 September 2010

FIRMAN ALLAH YANG SELALU BARU

Bacaan Alkitab1 Yohanes 2: 7-17

            Firman Tuhan adalah berita yang selalu aktual, kontekstual dan memiliki kohesifitas untuk menghadapi kondisi-kondisi yang ada dalam kehidupan setiap manusia. Firman Allah bukanlah sesuatu yang baru tetapi bisa menjadi sesuatu yang baru dalam kehidupan kita apabila yang lama itu kita maknai dengan sesuatu yang baru. Bisa juga yang lama itu akan menjadi sesuatu yang baru dalam penerapannya apabila kita lakukan tiap-tiap saat. ”Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya”. (ayat 7-8)
            Tema kehidupan umat percaya adalah kasih dan tema itu akan selalu aktual (baru) apabila kita beri nuansa yaitu dengan menjadikan tema tersebut menjadi sesuatu yang riil (faktual). Mengasihi orang yang baik dengan kita bukanlah suatu perbuatan mengasihi tetapi hal itu hanya sekedar perbuatan baik dan bisa dilakukan oleh sipapun tanpa harus mengenal Allah. Perbuatan kasih bisa tertuang disaat kita melakukan sesuatu untuk kebaikan orang lain di mana tidak alasan bagi orang tersebut untuk mendapatkannya. Perbuatan mengasihi tidak mengenal persyaratan dan tidak berorientasi pada timbal balik sehingga dalam hal ini hanya totalitaslah yang akan menjadikan kita mampu mengasihi orang lain.
             Bagaimana agar firman Tuhan senantiasa menjadi sesuatu yang baru dalam hidup kita?

Hidup didalam terang
            “Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan.” (ayat 10) Kalau mau melihat firman Tuhan itu menjadi sesuatu yang senantiasa baru dalam kehidupan kita maka kita harus memiliki pijakan yang benar, yaitu kehidupan di dalam terang. Mari lihat setiap kondisi kehidupan ini dari posisi hidupan dalam terang, maka kita akan senantiasa menyadari bahwa tidak akan pernah kita akan bosan-bosannya melakukan firman Allah. Atau kita tidak akan pernah berdalih bahwa firman Tuhan itu sudah usang dan tidak relevan lagi untuk zaman sekarang.
             Masalah besar yang dihadapi oleh setiap orang adalah bahw ia tidak menyadari bahwa firman Allah yang telah ditulis kurang lebih 2.000 tahun yang lalu itu adalah sesuatu yang tetap relevan untuk hari ini adalah karena posisi kehidupan mereka yang tidak benar. Mengasihi orang seperti yang diajarkan oleh Alkitab adalah suatu perintah yang tetap relevan untuk hari ini kalau kita berada di dalam terang. Atau kita tidak akan pernah mengurangi arti kata mengasihi seperti yang diungkapkan dalam Alkitab apabila hidup kita berada di dalam terang. Kita akan tahu bagaimana harus mengasihi orang lain, apabila kita perpijak diatas kehidupan yang yang diterangi oleh firman Allah itu sendiri.

Hidup dalam firman Tuhan
            “Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat”.(ayat 14) Ungkapan ini ditulisan sampai dua kali, menunjukkan bahwa kebenaran firman Tuhan yang sudah dan sedang dituliskan itu adalah kebenaran yang senantiasa diperlukan oleh manusia sampai hari ini. Sebab tidak ada satupun masalah di dunia ini yang tidak bisa diselesaikan apabila kita melandaskan tindakan-tindakan kita dengan prinsip kebenaran Allah yang terdapat dalam Alkitab. Hikmat dunia memiliki banyak keterbatasan dan tidak akan pernah menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru tetapi tidak demikian dengan Alkitab.
             Firman Tuhan akan membawa dampak apabila firman itu tidak hanya sekedar dimengerti dan dipahami tetapi dilakukan. Firman Tuhan itu menjadi sesuatu yang baru apabila firman Tuhan itu diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Perbuatan melakukan firman Tuhan selalu berangkat dari rasa ketundukan. Melakukan ketundukan hanya memiliki satu pilihan yaitu sesuatu yang dipadankan dengan kehendak Allah bukan melakukan apa yang kita mau dan enak kita lakukan dan tidak melakukan apa yang tidak kita ingini sehingga aplikasi firman Tuhan mengalami pendangkalan. Melakukan firman Tuhan membutuhkan totalitas. Berjalan dalam firman Tuhan membuat sesuatu yang berada di luar teritori kemampuan kita bisa dilakukan karena kuasa firman yang nyata.

Hidup dalam pola pikir Allah
             “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya... Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” (ayat 15) Kata dunia di sini adalah pola pikir dan falsafah dunia yaitu sesuatu norma yang bertolak belakang dengan pikiran Allah. Jadi kalau kita mau melihat aktualisasi firman Allah dalam kehidupan kita hari ini, kita dituntut untuk melepaskan pola pikir dunia yang menuju kehancuran dan menggantinya dengan pola pikir Kristus.
             Perbuatan adalah proyeksi dari pola pikir. Apa yang kita pikirkan akan dituangkan dalam perbuatan kita. Untuk itu kita diingatkan supaya tidak memiliki pola pikir dunia supaya kita tidak memiliki perbuatan yang duniawi yang jauh dari firman Allah. Dunia mengenal daerah abu-abu yang membuat orang akan hidup dalam dikotomi dan memisahkan antara kehidupan spiritual dan duniawi tetapi orang yang mendasarkan dirinya pada hikmat Allah tidak mengenal daerah seperti itu karena seluruh kehidupannya akan bermuara pada kemuliaan nama-Nya.
             Memang kita harus berbaur dengan dunia ini tetapi bukan berarti kita harus mengimitasi (mencontoh/mengidentifikasi) dunia ini. Bukan pula kita harus mengisolasi diri agar tidak terpengaruh dengan dunia ini tetapi kita harus memiliki sifat insulasi. Insulasi (insulation) adalah pembauran dengan dunia tanpa harus menjadi sama dengan dunia ini tetapi tetap bisa bertahan pada pola hidup di jalan Allah. Milikilah pola pikir Kristus sehingga meskipun kita berada di dalam kondisi yg kontradiktif tetapi tidak terformula oleh dunia melainkan memiliki kontras dan bahkan pengaruh untuk dunia.
            Oleh karena itu kalau kita ingin menjadi seperti Kristus, kita harus mau bereksodus menuju kepada apa yang Allah pikirkan. Apa yang disukai Allah, akan menjadi kesukaan kita dan apa yang menjadi pijakan Allah dalam menghadapi kondisi dan situasi, itu pula yang akan mendasari kita untuk menghadapi hal yang sama (ada suatu proses impartasi dari Allah dalam pikiran dan tindakan kita).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar